bahasa Inggris bukan bahasa yang kita pakai sehari-hari. Jadi pastinya, guru-guru dan murid-murid yang ada di sekolah-sekolah itu pasti tidak menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada keharusan untuk mengajarkan mata pelajaran dalam bahasa Inggris di sekolah-sekolah RSBI, aku membayangkan bahwa guru-guru plus murid-muridnya itu akan berjuang dengan sedikitnya dua hal (yang berhubungan dengan bahasa Inggris) pertama berhubungan dengan mata pelajaran yang harus diajarkan dalam bahasa Inggris, yang kedua dengan komunikasi bahasa Inggrisnya.
Mata pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Indonesia pun tidak menjamin bahwa murid akan memahami bahan ajar tersebut, apalagi ketika pelajaran itu disampaikan dengan bahasa asing. Belum lagi tuntutan pemakaian bahasa Inggris untuk berkomunikasi antara guru dan murid di kelas. ‘Menanyakan sesuatu yang tidak dimengerti dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti untuk menghasilkan jawaban yang lebih bisa dimengerti dengan bahasa yang tidak dimengerti.
Kita punya kesadaran tentang pentingnya bahasa Inggris untuk bisa bersaing secara internasional. Namun aku juga tahu sekali bahwa untuk punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik untuk mengajar, apalagi mengajar mata pelajaran bermuatan ilmiah seperti ekonomi, fisika, matematika, biologi, dsb., benar-benar membutuhkan waktu, tidak bisa instant dua tiga tahun saja.menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar pendidikan itu konsekuensinya luas
Bahkan Danny Whitehead, Head of English Development British Council, maupun Hywel Coleman, konsultan pendidikan di British Council Indonesia mengatakan kalau RSBI harus dievaluasi terutama efektifitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris.* Mereka bilang kalau sebenarnya Indonesia nggak perlu menkopi mentah-mentah kurikulum negara lain, bisa pakai kurikulum negara sediri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar